Jumat, 04 Februari 2011

Gunung-gunung masih ditutup

Gunung-gunung di Indonesia saat ini kebanyakan masih ditutup untuk pendakian. Gunung Slamet di Purwokerto, Jawa Tengah, misalnya ditutup akibat aktivitas vulkanik yang meningkat serta cuaca buruk. Beberapa bagian jalur pendakian dari desa Bambangan dikabarkan telah rusak sehingga sekarang tengah dibuat jalur baru.
Seperti biasa, Gunung Gede-Pangrango pada bulan Januari-Maret memang ditutup mengikuti peraturan taman nasional. Yang bisa didaki adalah Cikuray, Guntur dan gunung-gunung lain yang belum masuk pengelolaan taman nasional.

Rabu, 28 Januari 2009

Back from Cikurai

Well a week ago i just hiked Mount Cikurai in Garut, West Java. It's steep. My legs ached for days.
Six of us started from Kampung Rambutan bus terminal in Jakarta at late of night. We took a night bus to Garut, a small town not far from Bandung and famous for its 'dodol' ( a sweet-brown cake).
That's Friday and we reached Garut at dawn of Saturday. Rested for awhile at a mosque near Guntur Terminal. Have breakfast of chicken porridge and yellow rice.
We took a public vehicle to Cilawu, and get off in front of gate to tea plantation of Dayeuh Manggung. Here we had to take ojeks to out starting point (Pemancar). The road was bad and it's killing my butt. I was so glad when finally reached the pemancar or television post.
Here we started hiking to the top. The track was steep, full of branches. Sometimes we had to climb over big tree which had fallen. We got rain too and soaked to the bone. Cold and tired, finally we reached the top around 4.30 pm.
In the morning we saw beautiful sunrise from the peak of Cikurai.

Selasa, 30 Desember 2008

Tim Lain juga sampai di Raung (another team reached Raung)

In my latest post i said that one team of pembalak pangrango has reached the true peak of mount Raung. They were nine people. Later on i just informed that another team also reached the Raung peak by Kalibaru route. This team had three members.

Now i know that more and more people will climb Raung via Kalibaru. In New Years Eve, one of my friend has a plan to go there by himself. Alone, maybe he will hire a guide too.

===
Dalam post terakhir saya bilang bahwa satu tim yang terdiri dari sembilan orang berhasil sampai ke puncak sejati Raung via jalur Kalibaru. Belakangan saya baru tahu bahwa tim lainnya, terdiri dari 3 orang, juga berhasil sampai di sana.

Agaknya jalur ini makin banyak disukai. Rencananya seorang teman juga akan berangkat ke sana menjelang malam tahun baru ini. Cuma sendirian dia. Mungkin nanti dia akan ditemani guide juga. Beberapa teman juga sudah merencanakan pergi ke Raung tahun depan.

Jumat, 26 Desember 2008

Menggapai puncak sejati Raung (Reaching the true peak of raung)

Wah saya gembira nih. Ada SMS bahwa teman-teman dari tim pembalak milis pangrango berhasil sampai ke puncak sejati Gunung Raung melalui jalur Kalibaru. Mereka bersembilan, salah seorang di antaranya perempuan.

Gunung Raung ada di Jawa Timur. Biasanya untuk jalur normal ditempuh melalui desa Sumberwringin namun jalur ini mentok hanya sampai di tepi atas kaldera. Sementara puncak sejati Raung ada di seberang kaldera. Tidak bisa ke sana karena harus jalurnya melalui gigir tebing yang berbahaya.
Untuk ke puncak sejati raung, ada dua jalur yakni melalui Kalibaru dan Glenmore. Semua memerlukan ketrampilan rockclimbing dan bantuan tali-temali.

--
I am very excited. I just got SMS that my friends from 'pembalak team' of mailing list pangrango has just reached the true peak of Mount Raung. They were 9 people including 1 girl..reaching the peak through Kalibaru route.

Raung is situated at East Java. It has 'normal route' by Sumberwringin village at Jember. But this route only bring you to the caldera of raung. while the true peak is across of this caldera top. You cann't reach it by Sumberwringin as you will face the obstacles of very narrow arete.
To reach the true peak of raung, you can choose route of kalibaru or glenmore village. All this route need some rockclimbing skills using ropes.

Minggu, 21 Desember 2008

Gunung Salak (Mount Salak)

Gunung Salak termasuk gunung yang paling dekat dengan rumah di Bogor. Tapi entah kenapa saya justru sangat jarang mendakinya. Baru sekali ke sana, ke Salak 2, melalui jalur Curug Nangka.
Setahu saya jalurnya memang cukup berat karena belum begitu tertata dengan baik. Saat melalui Jalur Nangka, rombongan saya sempat harus memanjat menggunakan tali, lalu meniti jalur sempit dengan jurang di bawahnya. Kami pun terpaksa harus menginap semalam di suatu lembah, membabat pohon agar bisa mendirikan tenda. Untungnya saat itu tidak hujan sehingga tidak terlalu menderita.
Esoknya kami senang karena bisa bertemu jalur resmi dan dalam sejam sudah sampai di puncak Salak 2. Untuk pulangnya, kami turun ke jalur Tapos. Lagi-lagi harus menerobos semak belukar. Patokannya hanya papan petunjuk dari seng yang dipaku ke pohon oleh tim yang pernah lewat jalur ini sebelumnya.
Waktu itu kami turun dan sampai di sebuah sungai kecil. Hujan pun turun lebat. Akhirnya kami putuskan memilih sebuah jalur kecil di seberang sungai. Dan akhirnya memang sampai di sebuah desa.
Perlu ekstra hati-hati dan kekompakan jika memang ingin mendaki gunung Salak.

Mount Salak located in Bogor so it's quite near my home. But this is one mountain that i almost never been there. I just climbed it once, to Salak 2 using Curug Nangka trail.
Salak has a rough terrain and its trail was never meant to be explored by unexperienced hiker. When hiking by Nangka trail, my team had to climbed a steep track using ropes. Then we had to walked carefully as deep ravine was below us. That night my team must put tent inside a deep valley surrounded by big trees. Fortunately a day later we found the right track and in one hour we reached the peak of Salak 2.
For hiking down, we chose to go by Tapos trail. Again we had to follow rough terrain full of bushes and trees. We had to rely on small markers which has been put at the trees by previous team.
Below we met a small river. Here we took rest but nor for long as the rain began falling. At that time we decided to follow a small trail next to the river, which later on brought us to a small village.
So you have to really prepared if want to hike Salak.

Dua Bahasa alias Dual Language

Saya sering mencari-cari blog tentang produk ransel dan sebagainya. Saat mencari tahu soal ransel Golite Jam, saya ketemu salah satunya di situs Spurn. Sayang bahasanya Jepang melulu.

Jadi terpikir untuk membuat blog dengan dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Minimal biar bisa dibaca makin banyak oranglah. Insyaallah.

I am often looking for interesting blogs about outdoor products. Yesterday I was trying to find information about Go Lite Jam backpack. Found at Spurn blog, too bad it was in Japanese.
So i decided to make this blog in two languages: Indonesian and English. At least i hope this blog will be read by more people. God willing.

Produk Alpina

Alpina di era 80-an adalah raja produk alat-alat outdoor. Ransel, raincoat, celana, baju dan lain-lain.
Sampai-sampai saya ingat harian Kompas pernah memuat artikel cukup besar tentang Alpina ini. Zaman SMA, teman malah sampai niat sekali pergi ke Bandung khusus untuk belanja ransel besar di toko Alpina.
Saya sendiri belum pernah ke toko Alpina di Bandung.
Sayang sekarang sudah tidak ada produknya lagi, cmiiw.

Mungkin awalnya karena terlalu banyak yang memalsu. Merek Alpina dipalsukan menjadi 'Alpin, Alfin' dan lain sebagainya. Bisa juga karena sudah terlalu populer, orang (mereka yang suka eksklusivisme) tidak lagi mau memakai produk bermerek ini.

Kadang kalau sedang memakai raincoat Alpina, saya suka melihat lagi merek itu. Dan mengenang kembali zaman yang sudah berlalu.